Bec News BEC BSI

Saatnya Kampus Dijadikan Basis Produksi Entrepreneur

Terbit : 2016-02-05 | Jam : 15:11:44 WIB | Dibaca : 1757 kali.

Sekarang ini makin banyak kampus yang menawarkan jurusan dengan fokus utama entrepreneurship. Berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta kini berlomba – lomba memperkenalkan pendidikan kewirausahaan di kampusnya. Mereka, ramai-ramai menyemaikan nilai entrepreneurship di kampus. Perguruan tinggi sadar untuk mencetak lulusan berjiwa entrepreneur handal yang pada akhirnya meningkatkan ekonomi bangsa. Sudah saatnya kampus dijadikan basis produksi entrepreneur.

Peran entrepreneur dalam menentukan kemajuan suatu bangsa/negara telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti amerika, jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu singapura dan malaysia. Di amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya menjadi entrepreneur, dalam setiap 11 detik  lahir entrepreneur baru dan  data menunjukkan 1 dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur.  Itulah yang menjadikan amerika sebagai negara adi kuasa dan super power. Selanjutnya Jepang lebih dari 10 persen penduduknya sebagai wirausaha dan lebih dari 240 perusahaan jepang skala kecil, menengah dan besar bercokol dibumi kita ini. Padahal jepang mempunyai luas wilayah yang sangat kecil dan sumber daya alam yang kurang mendukung (kurang subur) namun dengan semangat dan jiwa entrepreneurshipnya menjadikan jepang sebagai negara terkaya di Asia.

Dibeberapa perguruan tinggi di luar negeri, baik Amerika, Eropa maupun Asia telah berusaha mengembangkan model-model pendidikan entrepreneurship, namun pendidikan entrepreneurship sangatlah dipengaruhi oleh budaya lokal. Model Eropa tidak tepat jika diterapkan di Asia. Model Korea, belum tentu cocok jika diujicobakan di Singapura. Begitu pula bangsa Indonesia harus mencari pola yang sesuai dalam pendidikan entrepreneurship ini. Memaksakan cara-cara yang berbenturan dengan budaya setempat akan menimbulkan hambatan-hambatan yang tidak perlu dalam mempersiapkan para entrepreneur muda. Di samping budaya dan nilai-nilai lokal yang berbeda, para entrepreneur harus memiliki nilai-nilai universal yang juga dimiliki para entrepreneur kelas dunia. Seorang entrepreneur haruslah seorang yang kreatif dan inovatif. Perguruan tinggi dinilai sebagai tempat yang tepat untuk menyemaikan nilai-nilai entrepreneurship. Nilai-nilai itu antara lain mampu melihat peluang dan kesempatan, kreatif, dan inovatif, keberanian mengambil risiko, bekerja keras, ulet, serta jujur dan bermartabat. Pendidikan entrepreneurship, bisa dalam bentuk pendidikan formal, pendidikan ekstrakurikuler, maupun crash-program.

Penting sepertinya kita mencontoh salah satu perguruan tinggi di amerika yaitu MIT (Massachusette Institute Technology) dimana dalam kurun waktu tahun 1980-1996 ditengah pengangguran terdidik yang semakin meluas dan kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang stabil, MIT merubah arah kebijakan perguruan tingginya darihigh Learning Institute and Research University menjadi Entrepreneurial University. Meskipun banyak pro kontra terhadap kebijakan tersebut namun selama kurun waktu diatas (16 tahun) MIT mampu membuktikan lahirnya 4 ribu perusahaan dari tangan alumni-alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. Sungguh prestasi yang amat sangat spektakuler sehingga merubah kondisi amerika menjadi negara super power. Kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses didunia ini.

Dosen Kewirausahaan AMIK BSI Tasikmalaya, Karsono, M.M misalnya dalam suatu kesempatan mengatakan saat ini kewirausahaan telah menjadi salah satu mata kuliah di berbagai universitas. Karsono menambahkan, perlunya menempatkan kewirausahaan sebagai mata kuliah terhormat di kampus-kampus, jika ingin memajukan dunia wirausaha Indonesia. Karsono juga menegaskan agar kampus jangan hanya mengandalkan metode pembelajarannya pada sistem hafalan, akan tetapi menurut beliau, sebaiknya 90 persen perkuliahan dilakukan secara praktik dan 10 persennya lainnya untuk pemaparan. Ditambahkan Karsono, kualifikasi yang seharusnya dimiliki dosen kewirausahaan adalah orang-orang yang inspiratif dan motivasional, serta mampu menyampaikan materi dengan baik dan menarik. Jika perlu, dosen tersebut juga memiliki usaha sehingga bisa berbagi cerita kepada mahasiswanya. Latihan-latihan yang dilakukan bagi mahasiswa kata  Karsono haruslah didasarkan pada prinsip utama entrepreneurship, yakni berani mengambil risiko. Beliau mencontohkan, jika seorang mahasiswa memiliki tabungan sebesar Rp1 juta, maka dia harus berani menginvestasikan Rp800 ribu di antaranya sebagai modal usaha.

Berkaca pada kesuksesan negara maju seperti amerika dan eropa yang hampir seluruh perguruan tingginya menyisipkan materi entrepreneurship dihampir setiap mata kuliahnya, negara-negara di asia seperti jepang,  singapura dan malaysia juga menerapkan materi-materi entrepreneurship minimal di dua semester. Itulah yang menjadikan negara-negara tetangga kita tersebut  menjadi negara maju dan melakukan lompatan panjang dalam meningkatkan pembangunan negaranya. Di Indonesia, usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan diperguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Sedikitnya ada enam usaha/cara  yang penulis temukan dalam meningkatkan gema kewirausahaan bagi mahasiswa.

Pendirian Pusat  kewirusahaan Kampus seperti BSI Entrepreneruship Center (BEC) di BSI, Pusat Inkubator Bisnis ITB, Koperasi kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) ITB, Community Business and Entrepreneurship Development (CDED) di STMB Telkom, Community Entrepreneur Program (CEP) UGM, Center for Entrepreneurship Development and Studies (CEDS) di UI, UKM Center di FEUI, Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) di Universitas Tri Sakti, Binus Entrepreneurship Center (BEC) di Binus, dan banyak lagi. Melalui pusat kewirausahaan kampus banyak kegiatan yang dilaksanakan seperti seminar,talkshow, short course, loka karya, workshop, praktek usaha, kerjasama usaha, Entrepreneurship Expo,Entrepreneurship Challange dll.

Perguruan tinggi diIndonesia meskipun ketinggalan, sudah mulai sadar akan pentingnya kewirausahaan dikampus dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal terpenting yang harus diberikan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi seperti UI, UNDIP, ITB, UNPAD, IPB, UGM, STT dan STMB Telkom, President University, UKSW, Paramadina, UNPAR, Univ Semarang, BSI, BINUS, Tri Sakti dan yang lainnya memberikan materi kewirausahaan tidak sebatas formalitas belaka. Hal ini terlihat dari kesungguhan setiap perguruan tinggi tersebut dalam mendesign materi dan menyuguhkan metode pembelajarannya.

Program kewirausahaan yang digagas pendidikan tinggi (Dikti) melalui Direktur Kelembagaan Ditjen Dikti saat itu (juli 2009). Dimana implementasi dari program ini adalah Dikti memberikan alokasi dana (modal) dalam bentuk subsidi untuk mahasiswa yang mempunyai usaha atau rencana usaha. Namun mengingat keterbatasan dana, program dari pemerintah ini “dilombakan” melalui proposal yang harus dikirimkan oleh mahasiswa dan perguruan tinggi yang berminat, sehingga memang presentasinya sangat kecil untuk mengakomodir mayoritas perguruan tinggi swasta yang begitu banyak.

Sementara model pendidikan enterpreneurship di kampus masih dalam batasan umum atau baku yang nantinya diharapkan dengan semangat jiwa kemandirian, mereka akan dapat mengembangkan sikap usaha mereka sesuai dengan karakter usaha dimana mereka berdomisili.

Hardskill atau keilmuan yang mereka dapatkan dari bangku kuliah menurut James perlu  dilengkapi dengan pelatihan softskill seperti latihan dasar kepemimpinan yang profesional dan bermartabat dengan program yang ada. Sementara Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Pusat Inkubator Bisnis (PIB) misalnya, merupakan satu di antara sedikit PIB yang masih bertahan hingga sekarang. Sebagai kampus berbasis teknologi, melalui PIB, ITB ingin menghasilkan UKM yang menguasai teknologi, berjiwa entrepreneurship dan enterprise.

Hal yang sama juga terjadi di Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong. Sebagai sekolah tinggi teknik, ITI pun mulai memasukkan muatan entrepreneurship ke dalam sistem pembelajarannya. "Kami telah  menetapkan misi ITI untuk menjadi technology based entrepreneur university.  ITI memasukkan materi mengenai entrepreneur di tiap program studi. Hal ini telah dilakukan sejak tahun pertama. Di tahun akhir pun mahasiswa diharuskan membuat tugas yang terkait dengan entrepreneur skill. Sebagai langkah konkret dari pembelajaran entrepreneurship, ITI juga akan mengembangkan bisnis berbasis intelektualitas. Yaitu dengan mengembangkan penelitian yang dapat menghasilkan uang.

 

Berikut ini merupakan contoh entrepreneur dan sekaligus hasil dari liputan mahasiswa AMIK BSI Tasikmalaya yang sedang berwirausaha menggeluti bidang fashion diantaranya clothing/T-Shirt Larizma Distro OlShop didirikan pertama kali oleh Kang Fauzan Fadrul Rahman pada tahun 2014, beliau merupakan salah satu mahasiswa Semester 5 Manajemen Informatika, AMIK BSI Tasikmalaya. Bisnis ini bergerak dibidang fashion yang salah satu diantaranya Clothing/T-Shirt. Dimana dalam memasarkannya memanfaatkan media online, diantaranya social media (Facebook, BBM, Twitter, dll) dan juga situs jual beli online (tokopedia, bukalapak, olx, dll). Meskipun belum punya situs resmi tersendiri Kang Fauzan terus berusaha dalam memanfaatkan kesempatan yang ada. Selain memanfaatkan media online juga, tak luput memanfaatkan kesempatan yang ada beliau juga sering memasarkannya di acara Car Free Day Tasikmalaya, Event – event Umum (baik dalam lingkup kampus maupun di lingkup masyarakat sekitar wilayah Tasikmalaya).

Ketika trend game Clash Of Clans banyak peminatnya, membuat Kang Fauzan tertarik memenuhi permintaan accesoris bagi para pecinta coc diantaranya Clothing/T-Shirt COC. Sejak saat itu timbulah semakin membuat semangatnya beliau menekuni bisnis di bidang Fashion ini sesuai dengan kebutuhan pasar yang diminta dan juga mengikuti terus trend perkembangan jaman masa kini. Dan dari hasil wirausahanya omset yang didapatpun mencapai 1,5 jt rupiah.

Image 06