Bec News BEC BSI

Sharing and Learning KelasKompas

Terbit : 2015-12-21 | Jam : 13:59:41 WIB | Dibaca : 873 kali.


Sharing and Learning KelasKompas - Kompas mengadakan event kelas kompas yang diselenggarakan pada tanggal 12 Desember 2015 bertempat di Auditorium Kampus Binus Business School JWC Senayan. Acara ini dibuka dengan musik yang dibawakan oleh cibubur beatbox. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh ketua panitia penyelenggara.

Acara berikutnya sharing and learning oleh ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Jawa Barat yaitu Kang Jodi Jonatra. Kang Jodi adalah owner dari Bober Cafe. Beliau menyampaikan pengalamannya dalam memulai usaha. Kang Jodi pernah kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung namun beliau di DO karena hobinya bolos dan main kartu sama teman-temannya. Kemudian kang Jodi berpikir untuk menjadi pengusaha. Pengusaha apa??? Yang pertama kali terpikir adalah buka lapak main kartu, karena hobinya kang jodi adalah main kartu.

Kang Jodi akhirnya memikirkan ide bisnis apa yang laku, lalu sesuai dengan hobinya. Maka tercetuslah ide untuk membuat cafe. Cafe yang berdiri pertama kali di pinggir jalan itu dinamakan dengan Bober Cafe. Bober Cafe dulu hanya punya 3 meja dengan kapasitas 12 orang pengunjung. Namun dengan gigihnya kang jodi maka sekarang menjadi besar dan terkenal seantera kota bandung dan memiliki 3 Cabang di kota Bandung.

Sesi oleh kang Jodi diakhiri dengan sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh peserta kepada kang jodi. Salah satunya adalah pertanyaan dari Bp. H. Yulikuspartono, M.Kom dari akademisi Bina Sarana Informatika. “Kang Jodi, Bagaimana cara membentuk mindset wirausaha dikalangan mahasiswa?” Tanya Mas Yule.

“Membentuk mindset wirausaha dikalangan mahasiswa tidak mudah pak, pertama saya salahkan media nih. Media itu salahnya klo ngeliput wirausaha yang sudah sukses hanya bertumpu pada titik akhirnya. Omsetnya sekian miliyar. Bukan prosesnya, jadi mahasiswa kita berpikirnya seberapapun modal yang dikeluarkan harus untung sekian. Bisnis yang dimulai oleh kalangan muda susah berkembang karena uangnya pasti habis. Oleh karena itu perlu ditanamkan bahwa bisnis bukan untuk gengsi, bukan untuk sombong melainkan untuk bersenang-senang. Caranya adalah bisnis sesuai dengan hobi tadi. Jadi mau nggak mau, bisa nggak bisa bisnis itu akan tetap dipertahankan.” Begitu kira-kira jawab Kang Jodi.

***

Sesi kedua mulai masuk ke kelaskompas. Dibagi menjadi 2 kelas. Kelas pertama yaitu kelas Pemasaran digital oleh Bayu Syerli dari bukalapak. Kelas kedua yaitu kelas foto produk di instagram oleh Captain Ruby profesional food photograper.

Kelas pemasaran digital, Mas Bayu menjelaskan bahwa pemasaran sekarang ini bukan lagi menggunakan media cetak saja atau SPG saja melainkan juga menggunakan media sosial, website bahkan marketplace. Dalam hal pemasaran digital tentunya banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhinya. Yang pertama adalah faktor sarana, faktor sarana apasaja? Ada blog, ada website, ada sosmed (WA,BBM,Instagram,Twitter). Makin sering orang berpromosi di media-media tersebut maka makin besar pula barang yang anda jual akan laku.

Di Indonesia, tahun 2014 perputaran uang di E-Commerce itu mencapai 13 Triliun. Angka yang cukup dahsyat. Itu tahun 2014. Ditahun 2015 ini kita prediksikan mencapai angka 30 Triliun. Masyarakat sudah mulai percaya dengan adanya e-commerce. Banyak sekali penyedia ruang jualan saat ini, ada OLX, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dll. Ini adalah peluang bagi kita untuk menjual barang-barang kita dengan mudah.

Tips dari Mas Bayu adalah memulai usaha dengan media terdekat yang biasa kita gunakan. Misalnya Facebook, Twitter, Instagram, WA, BBM. Kemudian kembangkan lagi kearah blog/website jika bisa membuat blog atau website sendiri, jika nggak bisa ya jualin aja di marketplace yang ada. Kemudian jalin relasi, ikut komunitas misalnya. Jadi makin jauh pasar yang dijangkau.

Ada pertanyaan menarik yang disampaikan oleh mas Fuad, “Mas Bayu mau tanya donk, seberapa penting sih peran SEO dalam website e-commerce yang kita punya dan seberapa efektifnya iklan yang kita bikin di submission untuk menarik pembeli? Yang kedua, bagaimana tips mas bayu untuk membuat pengunjung website kita itu percaya sama barang yang kita jual.”

Mas Bayu menjawab “Kalo soal SEO bagi orang awam itu susah mas. Kalo buat programmer mungkin gampang mengolah SEO website. Yang jelas begini mas, setiap kita memasang iklan mau itu iklan media cetak atau submission online itu akan efektif mas. Sangat efektif bahkan saya bilang. Karena apa, iklan yang ada tentunya merujuk pada website kita. Secara otomatis ketika website kita banyak nampang di iklan tentunya trafik website kita akan naik mas. Dan itu apa artinya, maka mereka akan membeli produk kita mas. Tinggal bagaimana kita membuat mereka tertarik sama produk yang kita tawarkan. Tips nya buat konten nya semenarik mungkin, pasang diskon-diskon, pasang promo, keamanan pelanggan dijaga, kemudian desain website jangan terlalu berat, cantumkan alamat dan kontak yang bisa dihubungi.”

***

Kelas Foto produk, yang disampaikan oleh Captain Ruby sebagai profesional food photograper lebih banyak mengajarkan tentang teknik How to create Instagenic-Photo on your Instagram.  Kebanyakan para penikmat selfie-photo baik untuk profile diri atau yang berminat menjual, menawarkan, memajang productnya via Instragram sering melupakan hasil gambar dari poto-poto yang di-jepretnya baik itu yang menggunakan smart-phone atau kamera profesional sekalipun. Yang perlu diingat menurut @captainruby bahwa “photo sangat dekat dengan marketing”, jadi harus benar-benar disiapkan proses pengambilan photo-nya untuk mendapatkan hasil maksimal alias poto productnya menarik – dapat – like dari follower. 

Beberapa ilmu yang bisa saya share dari acara itu diantaranya adalah :

  1. Photo yang di-capture harus menimbulkan kesan-kesan seperti :
    1. Hangat, rileks, ada taste, ada action
    2. Perlunya object tambahan selalin still-product
    3. Tujuan dari product yang akan di-capture, misal harus mewah, art/nilai seni
  2. First Thing First
    1. Lakukan experiment untuk beberapa photo dengan beberapa angle yang berbeda dari still-product
    2. Hilangkan ego dari owner dengan lebih fokus pada “what they want” bukan “what you want”.
  3. Who Are Your Crowd
    1. Perhatikan background dari still-product yang akan di capture, salah satunya dengan menyesuaikan terhadap segmentasi dari market-productnya
  4. Natural dan Artificial Lighting
    1. Dengan memperhatikan sumber cahaya saat pengambilan photo
    2. Natural berarti menggunakan murni cahaya matahari yang bersinar.  Dengan memperhatikan (golden-hour) waktu sinar matahari yang paling bersahabat bagi gambar yaitu pagi hari jam 08 s.d 10 atau sore hari jam 15 s.d 16.30
    3. Artficial Light berarti dengan menggunakan bantuan cahaya lampu yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan efek pada product yang di-photo. Saran dari @captainruby untuk posisi lampu adalah

                Beberapa catatan lain disampaikan yaitu untuk pengambilan cahaya secara Direct-Light akan membuat foto product terasa Hard/Strong dan punya shadow dibelakangnya, sedangkan jika In-Direct Light (menggunakan stryfoam untuk memantulkan cahaya) akan menjadikan photo product lebih soft dan difused shadow.

Beberapa tips

Selain beberapa ilmu yang penulis sajikan diatas, sebenarnya masih banyak lagi ilmu lainnya yang bersifat amat teknis. Akan sangat keren jika nanti saya akan buka workshop poto product tersendiri bersama rekan-rekan pembaca.  Semoga bisa direalisasikan oleh BEC-NEC atau ICEA.


Sebagai penutup beberapa tips semoga bermanfaat

  • Don’t just take photo, make a photo
  • Styling not decorating. What’s the point of interest ?
  • Play with shapes, with size, with color and with blur...blur and blur
  • Predictable is boring

Choice your camera. Note : Megapixels are’nt everything but sensor-camera is morethan megapixel

Image 06