Bec News BEC BSI

Tips Dari CEO Tokopedia : Bagaimana Menarik, Merekrut dan Me-maintain Talent di Indonesia

Terbit : 2015-08-18 | Jam : 10:16:18 WIB | Dibaca : 1558 kali.

“…saya datang padanya dan akan memperkerjakannya. Ia bilang pada saya, apakah harus ada semacam interview kerja. Saya jawab, tidak usah. Karena saya percaya padanya, dan ia lebih pintar dari saya. Saya rasa, itu cara terbaik memperkerjakan orang.”

Ini seperti contoh, suatu waktu pada sebuah acara reuni, guru-guru yang bertemu dengan para muridnya dulu, begitu terkejut ketika Murid-murid mereka tumbuh menjadi orang jauh lebih sukses dibanding mereka. Murid-murid itu menjadi manajer, pemilik suatu perusahaan, eksekutif, pelaku dunia digital dan lain-lain. Ini adalah suatu kenyataan dimana murid bisa menjadi lebih cerdas daripada gurunya suatu hari.

Dan, yang jadi pertanyaan adalah, mengapa bisa seperti itu? Tokoh kuncinya terletak pada seorang guru. Karakter yang mampu mendidik muridnya untuk lebih dan lebih daripada mereka. Menjadi pribadi yang mampu membuat orang lain lebih baik dari dirinya sendiri adalah pribadi dengan kulitas yang baik.

Jadi menurut saya, pemimpin yang baik adalah seperti itu, yang mampu membangkitkan Menularkan kemampuannya bagi teman-teman pemimpinnya agar saling tumbuh dan menjadi lebih baik. Jadi, memiliki kualitas kepemimpinan sepertihalnya seorang guru, adalah intinya.

Dan, saya membayangkan, bagaimana jika kamu punya suatu perusahaan yang seluruh karyawannya adalah fresh graduate dan minim pengalaman, bisa bertahan di tengah persaingan global yang begitu ketat? Yang bisa kamu lakukan adalah tanamkan pada mereka sebuah pola pikir atau mindset. Katakan pada mereka untuk percaya pada dirimu sendiri. Start with believe in yourself. Cause, if you don’t believe yourself, no one can believe on you. So, always start with believe yourself. Hanya waktu dan sebuah kerja yang benar-benar keras, serta mengerahkan segala yang terbaik yang kamu punya dalam dirimu, kamu akan menjadi tangguh dan menjadi bagian dari salah satu perusahaan kelas dunia.
Saya suka tentang konsep mindset yang ada. Secara umum, mindset atau pola pikir seseorang terbagi menjadi dua. Pertama, mereka yang berpikir jika intelektualitas adalah suatu hal yang statis; jika kamu tak bisa melakukan suatu hal, berarti kamu memang tak mampu untuk melakukan itu selamanya. Kedua, mereka yang percaya jika intelektualitas adalah suatu hal yang bisa berkembang; jika kamu tak bisa melakukannya hari ini, kamu bisa terus berusaha dan belajar, hingga pada hari esok atau lusa, kamu berhasil melakukannya. Mindset kedua ini adalah mindset yang bagus, menjadi pola pikir kunci untuk siapapun yang ingin terjun ke dalam suatu perusahaan. Pada akhirnya, sebuah perusahaan bukan hanya tentang pemimpinnya, CEO-nya, karyawannya, tapi semua yang terlibat di dalamnya.

Dan, baiklah pria ini bilang pada saya, apa beda seorang dreamer dan visioner? Dreamer adalah seorang pengkhayal yang bermimpi dengan mata tertutup, sedangkan visioner adalah pengkhayal yang bermimpi dengan mata terbuka. Jadi, seorang visioner adalah orang yang ketika berujar, bertindak dan berpikir selalu dalam jalur yang konsisten. Ini membuat saya ingin bertanya pada orang-orang yang ada di ruangan ini, kamu ingin menjadi apa? Dreamer ataukah Visioner?

“Saya Billy, pelaku bisnis furniture dan industri, saya ingin bertanya mengenai industri startup dan e-commerce, apa tantangan yang Anda hadapi dengan apa yang Anda punyai sekarang ini? Serta saya juga ingin tahu, model revenue seperti apa yang Anda pakai?”

Terima kasih untuk pertanyaannya. Saya ingin mulai menjawab dari pertanyaan terakhirnya. Sesungguhnya, saya tidak peduli dengan revenue-nya. Hal yang saya pedulikan adalah pertumbuhan perusahaan. Saya menganggap apa yang saya lakukan sebagai investasi masa depan. Persaingan internet marketing di Indonesia sangatlah ketat, maka itu, saya fokus untuk mempersiapkan tim yang solid. Karena jika berbicara tentang internet marketing, itu berarti kompetisi global, kamu tidak bisa besaing hanya dengan produk-produkmu. Karena persaingan yang terjadi ada pada setiap hal. Kualitas produk yang dimiliki bisa saja semuanya sama, jadi yang harus dibicarakan adalah seberapa besar kualitas sumber daya yang kamu punya.

Jika kamu bertanya apa yang saya lakukan pada lima tahun terakhir, yang saya lakukan adalah membangun tim yang baik. Cobalah kamu bertanya pada orang industri secara acak, bukan orang pengguna internet, sampai tahun lalu, mereka tak mengenal apa itu Tokopedia, karena saya memang tidak pernah benar-benar melakukan promosi yang besar-besaran. Tapi, kita tidak menghasilkan uang setiap tahunnya. Saya dan tim, kami ini memang tidak peduli dengan revenue, yang kami pikirkan adalah memberikan pelayanan terbaik atas penjualan produk-produk, serta memperkerjakan orang-orang yang terbaik. Itulah model revenue kami. Semoga dengan ini, saya bisa menjawab pertanyaan Anda.

“Mungkin Anda bisa jelaskan lebih jauh pada kita mengenai model revenue yang akan Anda pakai di masa depan? Karena setidaknya kita perlu tahu cara bagaimana menghasilkan uang, serta dimanakah posisi Anda saat ini dalam memandang model revenue? Apakah hanya untuk bersenang-senang saja?”

Saya memandang tokopedia bukan sebagai perusahaan e-commerce, melainkan salah satu perusahaan internet. Saya tak pernah ingin membuat e-commerce, jadi tokopedia bukanlah e-commerce. Maka, tak perlu ada yang harus dibayar. Sebagai suatu perusahaan internet yang bersifat open marketplace, tokopedia berperan dalam membantu orang-orang Indonesia mengenali bisnis online secara mandiri. Sebab saya percaya, cara terbaik untuk mendapatkan keuntungan adalah dengan membantu orang-orang mendapat uang juga. Maka model revenue yang saya pakai adalah advertising mode. Dengan ini, saya berharap bisa menyemangati konsumen yang sudah saya dan tokopedia miliki.

“Nama saya Felix, saya dari Singapura dan saya terkesan dengan kejujuran dan rasa kemanusiaan Anda. Namun, ada yang ingin saya tanyakan, siapakah yang menjadi kompetitor utama tokopedia saat ini?”

Yang menjadi pesaing adalah perusahaan yang bersifat open marketplace seperti bukalapak.com, elevenia.com, lamido.com dan lainnya merupakan pesaing Tokopedia. Tapi jika saya ditanya siapakah di antara mereka yang paling saya takuti, saya akan jawab; tidak tahu. Perusahaan internet saat ini sering kali paranoid. Salah satu yang bisa membunuh status quo adalah sebuah ketidaktahuan. Ketika Google memulai perusahaannya, ia tidak serta-merta mnejadi Google seperti sekarang ini, mereka mulai dengan ketidaktahuan. Sedangkan Yahoo dan lainnya mulai dari status quo. Dan sekarang ini kita bisa lihat, Google sudah besar, dan jika Google mulai untuk mengalahkan Yahoo, Google memulainya dari ketidaktahuan. Coba lihat Facebook, MySpace atau playstore-playstore di Indonesia, mereka mulai dari satu jejaring sosial yang kecil di universitas. Mereka mulai dari suatu ketidaktahuan sebelum menjadi seperti sekarang. All that I want today is, our competitor is not the one that today, is the future unknown play.

Sumber: Startupbisnis.com

Image 06