Bec News BEC BSI

Entrepreneur Merah Putih dan MEA

Terbit : 2015-06-24 | Jam : 16:21:07 WIB | Dibaca : 1125 kali.

Untitled Document

KOMPAS.com - Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di pelupuk mata. Ada yang menganggapnya berkah, tetapi tak sedikit yang menganggapnya bencana. Berkah karena peluang pengembangan bisnis ke berbagai negara ASEAN terbuka. Bencana karena masyarakat Indonesia dinilai tak siap hadapi persaingan regional dan global tersebut.
Di tengah situasi gamang itu, masyarakat terutama para entrepreneur dinilai mesti cerdas melihat berbagai peluang bisnis yang ada saat MEA berlaku. Hal yang paling penting adalah mengetahui seluk beluk potensi market ASEAN.
Berdasarkan data saat ini, Indonesia merupakan market utama di ASEAN. Setidaknya, 40 persen market tersebut ada di Indonesia. Artinya, peluang pengembangan bisnis negara-negara ASEAN akan tertuju ke Indonesia.

Jangan Terkecoh
Menurut pengamat marketing Yuswohady, para entrepreneur Indonesia tak boleh terkecoh untuk keluar mengembangkan sayapnya ke negara-negera ASEAN sementara pasarutama MEA ada di Indonesia.
"Market itu ada disini, jangan kita ke sana. Nanti kita lowong. Mereka nyuri di sini karena medan pertempuran ada di domestik," kata Yuswohady dalam acara Pesta Wirausaha di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (4/4/2015).
Menurut dia, konsentrasi memperkuat pasar domestik adalah kewajiban. Bagaimana tidak, Indonesia bisa jadi menjadi "pasar empuk" apabila seluruh stakeholder ekonomi tak membentengi market domestik dengan perisai yang kuat.

Satu hal yang penting kata Yuswohady, sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus mendapatkan perhatian besar. Saat ini, UMKM di Indonesia berjumlah 55 juta. Sementara itu, usaha besar layaknya perusahan-perusahan mapan berorientasi global jumlahnya tak lebih dari 5.000.
Data lain menunjukan, dengan jumlah 55 juta, sektor UKM mampu menyerap 101,72 juta tenaga kerja atau 97,3 persen dari total tenaga kerja Indonesia. UKM juga menyumbang 57,12 persen dari produk domestik bruto (PDB), kini menyampaikan Rp 8.200 triliun.
Dengan berbagai data itu, tak bisa dipungkiri bahwa sektor UMKM adalah sektor penggerak ekonomi Indonesai yang utama. Oleh karenanya, pengembangan UMKM sangatlah penting guna memenuhi kebutuhan pasar domestik yang menjadi sasaran para negara-negara ASEAN saat MEA berlaku.

Entrepreneur Merah-Putih
Yuswohady mengingatkan para entrepreneur untuk memiliki jiwa merah-putih. Artinya, pengembangan bisnis tak hanya semata urusan untung pribadi, tapi juga urusan nasionalisme. Baginya, pengembangan bisnis dengan brand lokal, sumberdaya lokal, sampai cita rasa lokal wajib dimiliki para entrepreneur Indonesia.
Bagaimanapun kata dia, entrepreneur Indonesia mesti cerdas melihat dimana keunggulan produk Indonesia ketimbang produk dari negara ASEAN lain. Sehingga nantinya Indonesia bisa jadi tuan rumah di pasar domestik.
Salah satu cara ampuh membawa jiwa merah-putih dalam persaingan MEA adalah dengan mengembangkan personal atau local branding bagi semua produk yang dihasilkan.
"Justru yang sangat mendesak adalah mempertahankan perisai, entrepreneur Indonesia dadanya harus merah-putih. Jangan cuma mikirin kepentingan pribadi tapi juga mikirin kepentingan Indonesia," ucap dia.

Image 06